Saturday, February 12, 2005

Visiting UK: A Dream Comes True

Ketika pesawat tinggal landas dari Bandara Soekarno-Hatta ada perasaan tak menentu dalam hati gue. Excited, sedih, khawatir bercampur jadi satu. Bayangin, ini adalah perjalanan gue yang pertama meninggalkan Pulau Jawa, meninggalkan Indonesia dan bahkan meninggalkan Asia, menuju benua Eropa. Menuju Inggris. Wow!

Selama ini gue belum pernah ninggalin Pulau Jawa. Terus terang gue belum pernah ke Bali sebelum pergi ke Inggris. Cucian, deh. Pergi meninggalkan Pulau Jawa paling banter nyeberang ke Madura waktu masih SD untuk nengokin nenek moyang atau musuh bebuyutan (?). (Orang Tuban sama orang Madura, katanya pernah berseteru dalam sejarahnya.Ingat Adipati Ronggolawe yang gagah perkasa itu? Nah, ini ada hubungannya dengan doi.) Back to the topic, kali ini, sekalinya pergi, ninggalin Pulau Jawa, melesat ke Benua Eropa. Melintasi beberapa negara sekaligus.

Gue longok Jakarta di malam hari dari jendela pesawat. Lampu-lampu Jakarta seakan melambai-lambaikan tangan melepas kepergian gue. Padahal di bawah sana tak seorang pun ada yang peduli. Keluarga besar gue ngga ada yang ngantar ke bandara. Mereka berada nun jauh di sana, di Tuban. Seakan ngga peduli. Memang begitulah, mungkin nama keluarga gw sebetulnya adalah Cuekbebek atau You-can-do-all-by-yourself. Yang jelas, gue ngga mewarisi nama keluarga yang pertama itu karena gue ngerasa sangat caring people and the world (Ngga percaya? Lihat aja slogan di pojok kanan atas. Weks!). Mungkin nama kedua itulah yang lebih tepat.

Saat itu rasa sedih dan kesendirian menyergap seluruh sendi tubuh gue. Wah, apa pula maksudnya? Pokoknya gue sedih banget waktu ninggalin Jakarta dan Pulau Jawa beserta isinya saat itu. Dan kekhawatiran gue muncul karena gue ngebayangin sesuatu yang buruk bisa terjadi dalam perjalanan semalam ini. Wajar toh, bagi anak kampung yang belum pernah melintas keluar pulau, tiba-tiba harus mengalami perjalanan udara yang begitu panjang.

Tapi, sepanjang perjalanan gue terhibur dengan bayangan apa yang akan gue alami pertama kali dalam seumur hidup. Gue bakalan menjejakkan kaki di negeri yang selama ini jadi impian gue. Gue akan menghirup udara yang juga pernah dihirup Freddy Mercury. Gue bakalan melihat pemandangan yang juga pernah dilihat Lady Diana. Gue bakalan mendengar kebisingan kota London yang juga pernah didengar John Lennon. Swear! No other countries I’d really like to visit more than England. Gue udah jatuh cinta lama sama Inggris, sama orang-orang yang bikin Inggris jadi terkenal, terutama sama pemusik-pemusiknya.

Gue ngga nyangka mimpi gue bakalan terwujud dalam waktu secepat ini. Memang usia gue ngga muda lagi waktu itu, 25 tahun. Dalam usia segitu, sebetulnya tampang gue masih imut banget. Gue memang memiliki warisan awet muda, ha ha ha. Tapi kepergian ini sudah jadi prestasi tersendiri dalam sejarah di keluarga gue. Memang gue tidak memecahkan rekor usia termuda pergi ninggalin keluarga. Gue memecahkan rekor pergi paling jauh dari yang dilakukan kakak-kakak gue. Selama ini, rekor itu dipegang kakak gue nomor dua. Yakni, pergi ke Padang. : p

Gue lirik teman seperjalanan gue, Yud. Gue ngga tau apa yang dia pikirin. Apakah seperti yang gue rasain atau ada perasaan lain. Yang jelas, dia masih lebih beruntung karena ada keluarga dan cowok yang melepas di bandara tadi. Masih ada upacara peluk cium di lobby bandara. Sementara gue cuma diantar sama sopir kantor. Uhuk, uhuk. Pengin nangis …

Memang, we never know what will happen to us. Gue merasakan hal itu. Dan gue bahagia dengan apa yang terjadi. Thank God, trims juga buat my old Big Boss yang bikin gue bisa ngalami semua ini. Meskipun, gue sadar kepergian ini juga dalam rangka sebuah rencana yang telah Big Boss bikin. Ini adalah bagian strategi dia untuk keeping his good men. Everybody knows, everybody realizes. Aniwei, kesempatan gitu loh.

1 comment:

Anonymous said...

rio

uhuy! seru juga yaaaa... tapi cerita sambungannya dong:P.

btw, udah lama tinggal misah ma ortu aja segitunya harus dianter:P.